Pelaku Pencabulan Terhadap Anak Kandung Tewas Dianiya Di Dalam Tahanan

Pelaku Pencabulan Terhadap Anak Kandung Tewas Dianiya Di Dalam Tahanan

targetkasusnews.co.id || SERDANG BEDAGAI

Tupak Simanjuntak (43), tersangka kasus pencabulan terhadap anak kandungnya dikabarkan meninggal dunia di Rumah Sakit Sultan Sulaiman saat menjalani perawatan setelah sebelumnya kritis akibat dianiaya sesama tahanan di Polsek Firdaus, Serdang Bedagai, Sumatera Utara (SUMUT).

Seperti yang dilansir dari Kongkrit.com, Tupak Simanjuntak dilaporkan oleh istrinya, R. Boru Butar-butar ke Polsek Firdaus karena memperkosa anak kandungnya sendiri yang berusia 13 tahun di dalam rumahnya di Desa Gempolan, Kecamatan Sei Bamban, Kabupaten Serdang Bedagai.

Kapolres Serdang Bedagai, AKBP Robin Simatupang didampingi Waka Polres Sergai Kompol Sofyan, KBO Intel IPTU T. Sihombing, kepada Wartawan, Sabtu, (25/9/2020) pukul 19.30 WIB di ruang kerjanya mengatakan, bahwa pada hari Jumat tanggal 25 September 2020 sekitar pukul 13.00 WIB, Tupak nyaris dihajar warga saat ketahuan kalau dia telah mencabuli anaknya, pada Jumat, (25/09/2020).

“Kepala Desa menghubungi Bhabinkamtibmas Polsek Firdaus dan kemudian Polsek Firdaus menjemput tersangka dan diserahkan ke Polres Sergai,” kata Robin.

Saat diperiksa polisi sebelum dijebloskan ke dalam sel, Jumat (25/9/2020), Tupak mengakui kalau ia sudah 13 kali memperkosa putri kandungnya. Bahkan, putri kandungnya itu kini tengah hamil 5 bulan akibat perbuatan bejatnya.

Sekira pukul 21.00 WIB, tersangka dimasukkan ke Rumah Tahanan Polres (RTP) Sergai. Di dalam sel, rupanya kasus Tupak diketahui oleh tahanan lain. Menilai bahwa perbuatan Tupak terlalu biadab, para tahanan lain yang berjumlah puluhan orang itu menghajarnya beramai-ramai hingga terdengar suara gaduh dari dalam ruang tahanan pada (26/09/2020) pukul 00.30 WIB.

Petugas yang mengetahui hal itu kemudian membawa Tupak yang sudah lemas dan bersimbah darah ke RSUD Sultan Sulaiman di Sei Rampah untuk dirawat.

Pada hari Sabtu (26/09/2020) sekira pukul 06.30 WIB, tersangka dinyatakan meninggal oleh pihak RS Sultan Sulaiman, sudah dilakukan autopsi dan telah diserahkan ke keluarganya, dalam hal ini keluarga tidak keberatan dan menerima.

Akibat kematian tersangka, penyidik melakukan pemeriksaan terhadap seluruh tahanan 1 Blok yang berjumlah 47 tahanan. Dari hasil pemeriksaan diketahui 25 tahanan telah mengakui perbuatan pengeroyokan tersebut.

17 orang tahanan mengakui tidak suka, benci terhadap tersangka yang bersikap arogan sehingga tahanan yang lain emosi secara tiba-tiba saat mengetahui Tupak itu pelaku pemerkosaan terhadap anak kandung, ditambah lagi kondisi ruangan sel tahanan over kapasitas, sempit, padat yang mengakibatkan tahanan kurang istirahat, tidak nyaman serta mudah emosi.

“Sebelum terjadi pengeroyokan, tersangka sempat berlaku arogan di dalam tahanan sehingga dengan spontan para tahanan yang berjumlah 47 orang emosi dan mengeroyok Tupak Simanjuntak hingga kritis, bukan direncanakan,” jelas Robin.

(Red)